Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 22 Mei 2011

Dokter Teladan Tingkat Kota Cirebon

Dalam Seleksi dokter teladan di Kota Cirebon, terpilih dokter H. Ahmad Subhi T sebagai dokter teladan tingkat Kota Cirebon, yang selanjutnya akan di ikutkan ke tingkat Propinsi Jawa Barat. Dokter H. Ahmad Subhi T merupakan dokter umum di Puskesmas Kalitanjung yang tahun 2011 ini terpilih sebagai dokter teladan. Mudah-mudahan apa yang dia emban akan bermanfaat bagi semuanya.

Data Pribadi
Nama                          : Ahmad Subhi Taufiequrrohman
Tempat tanggal lahir  : Cirebon ,8 Juni 1972
Alamat                        : Jl Pramuka No.1 RT/RW 08/03 Kelurahan Kalijaga
                                      Kecamatan Harjamukti. Kota Cirebon
Pendidikan                  : SDN Paoman 3 Indramayu ( 1985 )
                                      SMPN 3 Indramayu ( tahun 1988)
                                      SMAN 2 Cirebon ( tahun 1991)
                                      FK UNJANI CIMAHI ( tahun 2001)
Pekerjaan                   : PTT Puskesmas Pondoh Juntinyuat Indramayu (2001-2002)
                                     PTT Puskesmas Larangan Cirebon (2002-2006)
                                     PNS Puskesmas Kalitanjung (2006- sekarang)
Makalah yang diajukan untuk dokter teladan yaitu Pneumonia
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan Kesehatan di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari pembagunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi- tingginya/optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum. Hal ini sesuai dengan amanat yang terdapat dalam UU Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009  dan Pembukaan UUD 1945.
Pembangunan kesehatan kota Cirebon bertujuan  mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal menuju sumber daya manusia kota cirebon yang berkualitas. Puskesmas sebagai pusat kesehatan masyarakat memiliki fungsi sebagai penggerak   pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan baik perorangan maupun kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat di dukung oleh beberapa faktor yaitu faktor lingkungan 45%, faktor perilaku 30%, faktor pelayanan kesehatan 20%, dan faktor keturunan 5%. Oleh karena itu dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak cukup hanya dengan pelayanan kesehatan yang memadai saja tetapi dipengaruhi juga oleh lingkungan sehat dan perilaku sehat.
Suatu lingkungan dan perilaku yang tidak sehat akan menimbulkan berbagai penyakit yang berbasis lingkungan antara lain penyakit diare, ISPA pneumonia, kecacingan, disentri, penyakit kulit/kusta, demam berdarah dan tbc.
Dilihat dari data kunjungan pasien, penyakit-penyakit tersebut masih banyak ditemukan di puskesmas-puskesmas, terutama di Puskesmas Kalitanjung sebagai wilayah kerja penulis. Penyakit –penyakit tersebut dapat menyebabkan kematian balita terutama ISPA-pneumonia dan diare.
Dewasa ini Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tinggi. Menurut survey demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, AKI 228  per 100.000 kelahiran hidup, AKB 34 per 1000 kelahiran hidup, AKN 19 per 1000 kelahirn hidup, dan AKABA 44 per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan kesepakatan global MDGs (Millenium Development Goals, 2000) pada tahun 2015 diharapkan Angka Kematian Ibu  (AKI) menurun dari 228 pada Tahun 2007 menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup, Angka Kematian Bayi (AKB)  Menurun dari 34 /1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 menjadi 23 / 1000 kelahiran hidup pada tahun 2015.
Begitu pula data yang ada di Puskesmas Kalitanjung .Yaitu pada tahun 2009 sampai 2010,ditemukan kematian bayi sejumlah 4 orang bayi disebabkan pneumonia di rumah sakit pada tahun 2009 . Dengan demikian masih ditemukan kematian bayi  di wilayah Puskesmas Kalitanjung.

B. Masalah
Dari data kunjungan pasien dan cakupan program P2M tersebut di atas, maka masalah kesehatan di PUSKESMAS KALITANJUNG dari tahun 2009 dan tahun 2010 adalah ’’masih terjadi kematian bayi”.

Penyebab masalah .
Penyebab masalah tersebut sebagaimana hasil cakupan kejadian penyakit di PUSKESMAS KALITANJUNG tahun 2009 penyakit diare (245)  jumlah kematian  (0), penemonia (147) jumlah kematian (4), penyakit lain (-), jumlah  kematian (-) dan tahun 2010 penyakit diare 241 jumlah kematian (0), penemonia (46) jumlah kematian (0) ,penyakit lain (-) jumlah kematian. Dari data tersebut maka penyebab utama/terbesar  adalah pneumonia .
Faktor yang mempengaruhi penyebab masalah tersebut :
1. faktor perilaku kesehatan
Faktor ini sangat di pengaruhi oleh pengetahuan dan sikap masyarakat terutama ibu balita, sehingga cenderung mengabaikan perilaku kasehatan yang positif , ini dapat dilihat dari data PHBS tatanan rumah tangga masih kurang terutama indikator :
a. Masih terdapat anggota keluarga yang merokok didalam rumah
b. Kebiasaan tidak membuka jendela rumah (Tertutup)
c. Kebiasaan meludah di sembarang tempat
d. Masih ditemukan kebiasaan tak menutup mulut saat batuk/bersin.
e. Masih ditemukan ibu yang tak menyusui anaknya
2. Faktor lingkungan
Faktor ini juga sangat mempengruhi tingginya penyakit pneumonia pada bayi, masyarakat masih banyak yang mengabaikan kesehatan lingkungan seperti:Luas kamar tidak seimbang  dengan jumlah penghuni, padat penduduk dan kurang personal higiene.
C. Perumusan Masalah
    Dari hasil kajianan masalah , penyebab dan Faktor penyebab masalah maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut. ’’Masih terjadi kematian bayi akibat pneumonia di kelurahan Harjamukti Kota Cirebon pada tahun 2009’’.
D. Tujuan
1. Umum
Diketahuinya metoda efektif  dalam mengatasi penurunan kejadian kematian akibat pneumonia di Kelurahan Harjamukti  kota CIREBON.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya faktor penyebab masalah kematian bayi oleh pneumonia di kecamatan Harjamukti .
b. Diketahuinya proses integrasi program dalam menangani kematian bayi akibat pneumonia di kelurahan Harjamukti .
c. Meningkatnya peran masyarakat dalam penanggulan kematian bayi akibat pneumonia di kelurahan Harjamukti 
E. Manfaat
1. Sebagai pertimbangan perencanaan kegiatan di Puskesmas dalam menaggulangi kejadian kematian bayi akibat penemonia .
2. Sebagai rujukan petugas dalam penangggulangan penurunan kejadian kematian  bayi akibat penemonia .
3. Sebagai bahan rujukan peran lintas program dan sektoral dalam mengintegrasikan program mengatasi masalah penurunan kejadian kematian bayi .
4. Sebagai bahan memperkuat peran serta masyarakat dalam mengatasi kejadian kematian bayi .
5. Sebagaai bahan pengetahuan dan literatur peminat masalah kesehatan bayi.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Dalam keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 128/Menkes/SK/II/2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat, disampaikan konsep dasar Puskesmas bahwa Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas  Kesehatan Kabupaten / Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan Kesehatan disuatu wilayah kerja. Sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota(UPTD), Puskesmas  berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional Dinas Kesehatan  Kabupaten/Kota  dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak  pembangunan kesehatan di Indonesia yang memiliki fungsi:
1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan
2. Pusat pemberdayaan Masyarakat.
3. Pusat pelayanan kesehatan masyarakat strata pertama :
a. Pelayanan Kesehatan Perorangan
b. Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Upaya dan azas penyelenggaraan Pusat Kesehatan Masyarakat meliputi  upaya kesehatan wajib, upaya kesehatan pengembangan dan upaya kesehatan inovatif.
Dimana upaya  kesehatan wajib ditetapkan berdasarkan komitmen global dan nasional Yang memiliki daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan terdiri dari : 
1. Upaya promosi kesehatan
2. Upaya kesehatan lingkungan
3. Upaya kesehatan ibu anak dan keluarga berencana
4. Upaya perbaikan gizi masyarakat
5. Upaya pemberantasan penyakit menular
6. Upaya pengobatan
Ilmuwan kesehatan masyarakat HL. Blum mengungkapkan bahwa  ada empat faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat seperti digambarkan pada skema berikut ini :
  

Salah satu indikator untuk mengukur derajat kesehatan suatu negara adalah dengan melihat angka kematian anak (bayi dan balita). Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Development Goals/MDGs, 2000) pada tahun 2015 diharapkan angka kematian bayi dan angka kematian balita menurun sebesar duapertiga dalam kurun waktu 1990-2015. Berdasarkan hal itu indonesia mempunyai komitmen untuk menurunkan angka   kematian bayi dari 68 menjadi 23/1.000 KH, dan angka kematian balita 97 menjadi 32/1.000 KH pada tahun 2.015.
Menurut RISKESDAS 2007,penyebab kematian bayi 29 hari -1 tahun  adalah  diare 42%,  pneumonia 24 %, meningitis/ensefalitis 9%, kelainan saluran cerna  7%, kelainan  jantung kongenital  dan hidrosefalus 6%, sepsis 4%, tetanus 3% dan lain-lain 5%.
Penyebab kematian balita adalah diare 24, 2%, pneumonia 15, 5%, necrotizing enterocolitis  E.coli/ NEC 10, 7%, meningitis/encepalitis 8%, DBD 6, 6%, campak, 5, 8% tenggelam 4, 9% , dan lain-lain 9, 7%.
            Sejak tahun 1985 pemerintah merancang Child Survival (CS) untuk penurunan angka kematian  bayi.Rencana strategi Child Survival (CS ) terdiri dari 3 pesan kunci dan 4 strategi.
Tiga pesan kunci CS adalah:
1. Setiap bayi dan balita memperoleh pelayanan kesehatan dasar paripurna.
2. Setiap bayi dan balita sakit ditangani secara adekuat
3. Setiap bayi dan balita tumbuh dan berkembang secara optimal
Empat Strategi CS adalah :
1. Peningkatan akses dan cakupan pelayanan kesehatan ibu, bayi baru lahir dan balita yang berkualitas berdasarkan bukti ilmiah.
2. Membangun kemitraan yang efektif melalui kerjasama lintas program, lintas sektor dan mitra lainnya dalam melakukan advokasi untuk memaksimalkan sumber daya yang tersedia serta memantapkan koordinasi perencanaan MPS dan Child Survival.
3. Mendorong pemberdaayaan wanita dan keluarga melalui kegiatan peningkatan pengetahuan untuk menjamin perilaku yang menunjang kesehatan ibu, bayi baru lahir dan balita serta pemanfaatan pelayanan kesehatan yang tersedia.
4. Mendorong keterlibatan masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu , bayi baru lahir dan balita.
Agar pelaksanaan program KIA dapat berjalan lancar, aspek peningkatan mutu Pelayanan program KIA tetap diharapkan menjadi kegiatan prioritas di tingkat Kota atau Kabupaten. Peningkatan mutu program KIA juga dinilai dari besarnya cakupan program di masing-masing wilayah kerja. Untuk itu, besarnya cakupan pelayanan KIA di suatu wilayah kerja perlu dipantau secara terus-menerus, agar diperoleh gambaran yang jelas mengenai kelompok mana dalam wilayah kerja tersebut yang paling rawan. Dengan diketahuinya lokasi rawan kesehatan ibu dan anak, maka wilayah kerja tersebut dapat lebih diperhatikan dan dicarikan pemecahan masalahnya.Untuk memantau cakupan pelayanan KIA, dikembangkan sistem Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA). Disamping itu perlu kerjasama yang baik lintas program, lintas sektor  masyrakat  atau jejaring masyarakat.
Pengelolaan Program KIA khususnya Neonatus, Bayi dan Balita. Pelayanan kesehatan neonatus sesuai standar yang diberikan tenaga kesehatan yang kompeten kepada neonatus sedikitnya 3 kali, selama periode 0-28 hari setelah lahir, baik di fasilitas maupun melalui kunjungan rumah. Risiko terbesar kematian neonatus terjadi pada 24 jam pertama    kehidupan, minggu pertama dan bulan pertama kehidupannya. Pelayanan Kesehatan neonatal dasar dilakukan secara komprehensif dengan melakukan pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir dan pemeriksaan menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) untuk memastikan bayi dalam keadaan sehat, yang meliputi :
1. Pemeriksaan  dan Perawatan  Bayi Baru Lahir                                                               a.   Perawatan tali pusat
b.   Melaksanakan ASI ekslusif.
c.  Memastikan bayi telah diberi injeksi vitamin K1.
d.    Memastikan bayi telah diberi salep mata antibiotik.
e.    Pemberian imunisasi hepatitis B-0.
 2.   Pemeriksaan menggunakan  pendekatan MTBM
A. Pemeriksaan tanda bahaya seperti kemungkinan infeksi bakteri Ikterus, diare, berat badan rendah dan masalah pemberian ASI.
B. Pemberian imunisasi hepatitis B0 bila belum diberi pada waktu perawatan bayi baru lahir.
C. Konseling terhadap ibu dan Keluarga untuk memberikan  ASI  eksklusif.
      Pencegahan hipotermi dan melaksanakan perawatan bayi baru lahir di  
      rumah dengan menggunakan buku KIA.
 D.  Penanganan dan rujukan kasus bila perlu.
Faktor risiko pada neonatus adalah sama dengan factor resiko pada    Ibu  hamil. Ibu hamil yang memiliki faktor resiko akan meningkatkan    risiko terjadinya komplikasi pada neonatus. Oleh karenanya deteksi    faktor risiko pada neonatus baik oleh tenaga kesehatan maupun    masyarakat /ibu  kader merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah kematian dan kesakitan neonatus.
Adapun deteksi dini untuk komplikasi pada Neonatus dengan melihat tanda- tanda sebagai berikut :
a. Tidak mau minum/menyusu atau memuntahkan semuanya
b. Riwayat Kejang
c. Bergerak hanya jika dirangsang/letargis
d. Frekuensi nafas <= 30x /menit  dan >= 60x/menit
e. Suhu tubuh <= 35, 5 C dan > = 37, 5 C
f. Tarikan dinding  dada ke dalam sangat kuat,
g.  Merintih
h. Ada pustula kulit
i. Nanah banyak dimata
j. Pusar  kemerahan meluas ke dinding perut
k.  Mata cekung dan cubitan kulit perut kembali sangat lambat
l. Timbul kuning atau tinja pucat
m. Berat badan rendah menurut umur dan  atau ada masalah pemberian ASI
n. BBLR  berat bayi  lahir rendah < 2500 gram
o. Kelainan congenital seperti bibir sumbing /ada celah bibir dan langit-langit
Diperkirakan sekitar 15 % dari bayi lahir hidup akan mengalami komplikasi neonatal , terutama hari pertama, minggu pertama kemudian bulan pertama.   Kebijakan  Departemen  Kesehatan dalam peningkatan akses kualitas untuk menangani neonatus  dengan komplikasi adalah dengan penyediaan Puskesmas mampu PONED, dengan target setiap Kabupaten/Kota harus mempunyai minimal 4 Puskesmas mampu PONED.
PELAYANAN KESEHATAN BAYI
Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada bayi sedikitnya 4 kali selama periode 29 hari sampai dengan 11bulan setelah lahir.  Pelaksanaan  pelayanan  kesehatan bayi :
1. Kunjungan bayi satu kali pada umur 29hari – 2  bulan
2. Kunjungan bayi satu kali pada umur  3 bulan – 5 bulan
3. Kunjungan bayi  satu kali pada umur 6 bulan  - 8 bulan
4. Kunjungan bayi  satu kali pada umur 9 bulan  - 11 bulan
Kunjungan bayi bertujuan untuk meningkatkan akses bayi terhadap pelayanan kesehatan dasar   mengetahui sedini mungkin bila terdapat kelainan pada bayi  sehingga cepat mendapat pertolongan, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit melalui pemantauan pertumbuhan, imunisasi, serta  peningkatan kualitas hidup bayi dengan menstimuli tumbuh kembang. Dengan demikian hak anak mendapatkan pelayanan kesehatan terpenuhi.
Pelayanan kesehatan tersebut  :
a. Pemberian imunisasi dasar (BCG, Polio1, 2, 3, 4, DPT/HB1, 2, 3, campak ) Sebelum bayi berusia 1 tahun
b.  Stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang bayi
c. Pemberian vitamin A 100.000 IU  ( 6- 11 bulan )
d. Konseling ASI eksklusif, pemberian pendanping ASI
e. Penanganan dan rujukan
PELAYANAN KESEHATAN  ANAK BALITA
Lima tahun pertama kehidupan, pertumbuhan mental dan intelektual berkembang pesat.. Masa ini merupakan masa keemasan atau golden periode  dimana terbentuk dasar-dasar  kemampuan keinderaan, berfikir, berbicara, serta pertumbuhan  mental intelektual yang intensif, dan awal pertumbuhan moral. Pada masa ini stimuli sangat penting  untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi organ tubuh dan rangsangan pengembangan otak. Upaya deteksi dini gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia dini menjadi sangat penting agar dapat dikoreksi sedini mungkin dan atau mencegah gangguan ke arah yang lebih berat.
Bentuk pelaksanaan tumbuh kembang anak dilapangan dilakukan dengan  mengacu pada pedoman Stimulasi Deteksi dan intervensi Tumbuh Kembang anak (SDIDTK).
Kematian bayi dan balita  merupakan salah satu  parameter derajat kesejahteraan suatu Negara. Sebagian besar penyebab kematian bayi dan balita dapat dicegah dengan teknologi sederhana di tingkat pelayanan kesehatan dasar, salah satunya adalah  dengan  menerapkan  Manajemen Terpadu Balita Sakit.
Bank dunia ’93  melaporkan bahwa  MTBS  merupakan intervensi yang cost Effective untuk mengatasi masalah  kematian balita  yang disebabkan oleh Infeksi pernafasan akut / ISPA, Diare, Campak, Malaria, kurang Gizi, dan yang sering adalah kombinasi dari keadaan tersebut.
Seperti apa yang telah diuraikan sebelumnya bahwa angka kematian neonatus bayi dan balita di Negara kita masih tinggi, sehingga kita harus berupaya untuk menurunkan kematian  neonatus,  bayi, dan balita. Masih tingginya angka kematian neonatus, bayi, dan angka kematian balita menimbulkan angka kematian anak tinggi. Dengan angka kematian anak tinggi menyebabkan Umur Harapan Hidup (UHH) suatu Negara rendah. UHH rendah menunjukkan derajat kesehatan suatu Negara kurang. Dan apabila derajat kesehatan kurang maka indeks pembangunan manusia (IPM)  suatu negara itu rendah. Karena tinggi rendahnya IPM ditentukan oleh  3 faktor  antara lain; Daya beli masyarakat, tinggi rendahnya Pendidikan dan derajat kesehatan masyarakat. IPM Indonesia pada tahun 2009 (0,734 )    menduduki urutan 111 dari 182 negara. Sesuai dengan komitmen MDGs, pada tujuan; nomor empat menurunkan atau mengurangi tingkat kematian anak., maka sebagai tenaga kesehatan khususnya dokter harus berperan aktif untuk merealisasikan komitmen tersebut. Sesuai dengan  Petunjuk teknis jabatan fungsional dokter, keputusan Menteri Kesehatan RI, Nomor : 129/Menkes/SK/II/1999  Kedudukan, Tugas pokok Tanggung jawab dan wewenang  dokter adalah sebagai berikut:
1. Dokter adalah jabatan fungsional, seorang dokter sebagai pelaksana teknis Fungsional pelayanan kesehatan kepada masyarakat pada sarana kesehatan.
2.  Melaksanakan tugas sebagai dokter sesuai dengan beban tugas  yang diberikan  kepadanya dalam upaya pencegahan, penyembuhan dan  pemulihan kesehatan akibat penyakit, peningkatan derajat kesehatan masyarakat, serta pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka kemandirian di bidang kesehatan.
3.  Wewenang dokter adalah memeriksa pasien, menentukan  diagnosa, merencanakan dan melaksanakan tindakan yang diperlukan, memberikan keterangan medis, serta mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan.
4. Mengkoordinasikan tenaga kesehatan yang merupakan suatu tim dalam  pelayanan kesehatan pada  pasien yang menjadi tanggung jawabnya.      
Dalam kegiatan sehari-hari dokter fungsional bertugas sebagai koordinator  Bina wilayah  ( RW/kampong/desa ) dan koordinator program yang ada. Dengan demikian dokter fungsional tidak hanya melaksanakan tugas pada aspek kuratif atau pelayanan kesehatan perorangan, tetapi juga melakukan pelayanan kesehatan masyarakat.
Bentuk kegiatan pelayanan kesehatan  masyarakat yang biasa dilakukan di puskesmas kalitanjung :
1. Dokter ikut juga dalam kegiatan di Posyandu.
2. Dokter turut serta dalam pembinaan kesehatan masyarakat dengan menjadi  kordinator Binwil dari beberapa RW di wilayah kerja Puskesmas Kalitanjung.
3. Secara insidental dokter dengan petugas lain (Promkes, Kesling, gizi PHN, bidan, imunisasi, surveillance) memberikan penyuluhan atau kunjungan.
4. Bila ada kasus penyakit yang diderita masyarakat Kalitanjung terutama yang berhubungan penyakit yang berbasis lingkungan, segera dikoordinasikan ke  petugas pemegang program penyakit tersebut dan ke petugas binwil.   Kemudian disampaikan ke kepala Puskesmas dan teman sejawat.
5. Bersama petugas kesehatan lain membina dan memberdayakan masyarakat di dalam kemandirian dan berperilaku hidup bersih dan sehat.
PNEUMONIA PADA BAYI
Rata-rata setiap bayi dan anak akan mengalami sakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) 3-6 kali dalam setahun. Penyakit infeksi saluran pernafasan meliputi infeksi pada hidung, telinga, tenggorokan /pharynx trakhea, bronchioli dan paru. Tanda dan gejala penyakit infeksi saluran pernafasan dapat berupa: batuk, kesulitan bernafas, sakit tenggorokan, pilek , demam, sakit telinga.
Pneumonia adalah proses infeksi akut  yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli), yang kemudian jaringan paru-paru mengalami peradangan. Pneumonia dapat dikenali berdasarkan pedoman tanda-tanda klinis dan pemeriksaan penunjang (rontgen, laboratorium).
Pada anak-anak, pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar terutama di negara  berkembang  termasuk Indonesia. Angka  kematian pneumonia  pada balita di Indonesia diperkirakan mencapai 21 % (Unicef 2006 ). Adapun angka kesakitan diperkirakan  mencapai 250-hingga 299 per seribu anak balita setiap tahunnya. Karena itu pengobatan penderita pneumonia dapat menurunkan angka kematian bayi/balita. Namun untuk dapat memberikan Pengobatan pada penderita pneumonia, petugas kesehatan/kader kesehatan mengemban tugas untuk menemukan penderita pneumonia yang sedikit jumlahnya dari sekian banyak kasus ISPA. Sehingga kita patut waspada bila anak ada keluhan panas, batuk, sesak supaya memeriksakannya secara dini.
Sebagian besar penyebab pneumonia adalah (virus, bakteri), sebagian Kecil oleh penyebab lain seperti hidrokarbon (minyak tanah, bensin) masuknya makanan, minuman isi lambung ke saluran nafas (aspirasi). Penyebab tersering pneumonia adalah virus RSV sedangkan  golongan bakteri adalah bakteri streptococus pneumonia dan Haemophilus influenza  type b (Hib). Mikroorganisme masuk melalui percikan ludah (droplet).
Sedangkan dari sudut pandang sosial penyebab pneumonia menurut Depkes antara lain :
1. Status gizi
2. Riwayat persalinan
3. Kondisi sosial ekonomi orang tua
4. Lingkungan tumbuh bayi (sirkulasi udara, adanya pencemaran udara)
5. Konsumsi ASI
Klasifikasi Pneumonia
Program pemberantasan ISPA mengklasifikasikan pneumonia sebagai 
 berikut:
1. Pneumonia  Berat :  ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada  kedalam ( chest Indrawing )
2. Pneumoni  (ringan ) : ditandai adanya nafas cepat
3. Bukan Pneumonia   :  batuk pilek , bisa disertai demam, tanpa tarikan                                      Dinding dada dan tanpa nafas cepat.
Tanda dan Gejala
Tanda-tanda pneumonia sangat bervariasi, tergantung golongan  umur, Mikroorganisme penyebab, kekebalan tubuh, dan berat ringannya penyakit. Pada umumnya, diawali dengan panas tinggi, batuk makin hebat, napas cepat tarikan otot rusuk (dada) / retraksi, sesak napas dan penderita menjadi kebiruan. Adakalanya disertai tanda lain seperti nyeri kepala  nyeri perut dan muntah  Pada bayi usia di bawah 1 tahun tanda-tanda pneumonia  tidak spesifik. Tidak selalu ditemukan demam dan batuk. Selain tanda-tanda diatas, WHO telah menggunakan perhitungan frekuensi napas permenit berdasarkan golongan umur sebagai salah satu pedoman untuk memudahkan diagnosa pneumonia, terutama di institusi pelayanan dasar. Klasifikasi ini  terdapat pula pada MTBM dan MTBS.Tabel  pedoman perhitungan frekuensi napas (WHO).


Umur anak
Napas  normal
Nafas cepat/takipnea
0 – 2 bulan
30  -   50 per menit
Sama atau> 60x per menit
2 -  12 bulan
25  -   40 permenit
Sama atau >50x permenit
Pedoman perhitungan napas menurut  MTBS
Ada tanda bahaya umum  atau Tarikan dinding dada kedalam atau Stridor
Pneumonia  Berat Atau Penyakit  sangat Berat
Beri dosis pertama antibiotik yang sesuai rujuk  segera
Napas cepat
Pneumonia
Beri antibiotik yang sesuai selama 5 hari  Beri pelega tenggorokan pereda batuk yang aman.Kunjungan ulang 2 hari.Nasihati ibu kapan segera kembali
Tidak ada tanda-tanda Pneumonia atau penyakit  sangat berat
Batuk bukan pneumonia
Ji ka batuk lebih dari 30 hari Rujuk untuk pemeriksaan selanjutnya. Beri pelega tenggorokan pereda batuk yang aman Nasihati ibu kapan segera kembali. Kunjungan ulang setelah 5 hari Bila tak ada perbaikan

Umur anak            : Napas cepat apabila :     
2 bulan  - 12 bulan        : 50 kali atau lebih per menit
12 bulan – 5 tahun        :40 kali atau lebih per menit
Untuk bayi berumur 1 hari - 2 bulan dianggap sebagai ada gangguan napas bila : ada henti napas  > 20 detik ,  ada nafas cepat  >_60x/menit,  nafas lambat    < 30 x per menit, apakah  bayi tampak biru? Apakah  tarikan dinding dada  ke dalam sangat kuat? Apakah ada nafas cuping hidung?  apakah bayi merintih?
Penatalaksanaan
Pengobatan ditujukan kepada pemberantasan mikroorganisme penyebabnya. Antibiotika diberikan jika penderita telah ditetapkan sebagai pneumonia, di samping itu kemungkinan adanya keterlibatan infeksi sekunder oleh bakteri. Untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun demam di atasi dengan memberikan parasetamol, diberikan  4x tiap 6 jam. Bisa dibantu dengan kompres. Bayi di bawah 2 bulan dengan demam harus  segera dirujuk. Cara pemberian obat, tablet dibagi sesuai dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan air bersih, celupkan pada air.
Mengatasi batuk
Dianjurkan memberikan obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh, diberikan 3 kali sehari
Pemberian makanan dan minuman
Beri makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan. Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah ) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak,  kekuranagan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.
Tabel pemberian obat parasetamol untuk demam tinggi
Umur dan Berat Badan
Tablet 500 mg
Tablet 100mg
Sirup 120mg/5 ml
2 bln  sampai  6 bulan (4 < 7 kg)
1/8
1/2
2, 5 ml ( ½ sendok  takar)
6 bulan sampai 3 thn
7  - < 14 kg
¼
1
5 ml (1 sendok
Takar )
3 thn sampai 5 tahun
14-< !9 kg
½
2
7, 5 ml (1 ½  sendok takar)
Antibiotik oral ( KOTRIMOKSAZOL atau AMOKSILIN)
Umur atau Berat Badan
Kotrimoksazol            480 mg
Kotrimoksazol sirup / 5ml(240 mg)
Amoksilin sirup 125mg / 5 ml
2  -  4 bulan ( 4-<6kg)
¼
½ sendok  takar 2, 5   ml
2, 5ml
4  -  12 bulan(6-<10 kg)
½
1 sendok takar 5ml
5 ml
12 bulan-5tahun (10-<19kg )
¾ atau 1
7, 5 ml
10 ml
Kotrimoksazol diberikan 2 kali sehari dengan dosis sesuaikan umur atau berat badan anak, tiap kali pemberian. Sedangkan amoksisilin 3 kali pemberian.

Pencegahan
Mengingat pneumonia adalah penyakit berisiko tinggi yang tanda awalnya sangat mirip flu, alangkah baiknya para orang tua tetap waspada dengan memperhatikan sebagai berikut:
1. Menghindarkan bayi (anak) dari paparan asap rokok, polusi dan tempat   keramaian yang berpotensi penularan
2. Menghindarkan bayi dari kontak dengan penderita ISPA. 
3. Membiasakan pemberian ASI
4. Segera berobat jika  mendapati anak kita mengalami panas, batuk, pilek  terlebih jika disertai suara serak, sesak nafas dan adanya tarikan pada   otot diantara rusuk (retraksi)
5. Periksakan kembali jika dalam 2 hari belum menampakkan perbaikan.      Dan segera ke RS jika kondisi anak memburuk.
6. Menyediakan rumah sehat bagi bayi yang memenuhi persyaratan:
1) Memiliki luas ventilasi sebesar 12-20 % dari luas lantai.
2) Tempat  masuknya cahaya yang berupa berupa jendela, pintu atau  kaca sebesar 20%.
3) Terletak jauh dari sumber-sumber pencemaran, misalnya pabrik, tempat pembakaran dan tempat penampungan sampah.

2 komentar:

  1. Dokter Ahmad Sukses ya, Selamat berjuang di Bandung pa Haji. PD aja, bekal ilmu dan pengalamannya sudah OK, yakin deh.

    Andy B. Setiadi

    BalasHapus